- Aplikasi Bioteknologi Fermentasi Dalam Produksi Protein Sel Tunggal
Fermentasi mempunyai
pengertian aplikasi metabolisme mikroba untuk mengubah bahan baku menjadi
produk yang bernilai lebih tinggi, seperti asam-asam organik, protein sel
tunggal, antibiotika dan biopolimer. Fermentasi merupakan proses yang relatif murah yang pada hakekatnya
telah lama dilakukan oleh nenek moyang kita secara tradisional dengan
produk-produknya yang sudah biasa dimakan orang sampai sekarang, seperti tempe,
oncom, tape, dan lain-lain. Proses fermentasi dengan teknologi yang sesuai
dapat menghasilkan produk protein.
1.
Pengertian
Protein Sel Tunggal
Protein mikroba sebagai
sumber pangan untuk manusia mulai dikembangkan pada awal tahun 1900. Protein
mikroba ini kemudian dikenal dengan sebutan Single Cell Protein (SCP) atau
Protein Sel Tunggal. Menurut Tannembaum (1971), Protein Sel Tunggal adalah
istilah yang digunakan untuk protein kasar atau murni yang berasal dari
mikroorganisme bersel satu atau banyak yang sederhana, seperti bakteri, khamir,
kapang, ganggang dan protozoa. Sebenarnya ada dua istilah yang digunakan untuk
produk mikroba ini, yaitu PST (Protein Sel Tunggal) dan Microbial Biomass
Product (MBP) atau Produk Biomassa Mikrobial (PBM). Bila mikroba yang
digunakan tetap berada dan bercampur dengan masa substratnya maka seluruhnya
dinamakan PBM. Bila mikrobanya dipisahkan dari substratnya maka hasil panennya
merupakan PST.
Protein sel tunggal merupakan
mikroba kering seperti ganggang, bakteri, ragi, kapang dan jamur tinggi yang
ditumbuhkan dalam kultur skala besar. Protein ini dipakai untuk konsumsi
manusia atau hewan. Produksi itu juga berisi bahan nutrisi lain, seperti
karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral.
Teknologi modern untuk
membuat protein sel tunggal berasal dari tahun 1879 di Inggris, dengan
diperkenalkannya adonan yang dianginkan untuk membuat ragi roti (Saccharomyces
cerevisiae). Sekitar tahun 1900, di Amerika Serikat diperkenalkan alat
pemusing untuk memisahkan sel ragi roti dari adonan pembiakan.
Kemajuan ilmu pengetahuan dalam bidang fisiologi, nutrisi dan
genetika mikroba telah banyak memperbaiki metoda untuk menghasilkan protein sel
tunggal dari berbagai macam mikroba dan bahan mentah. Umpamanya, bakteri dengan
kandungan protein yang tinggi sampai 72 persen atau lebih dapat dihasilkan
terus menerus dengan menggunakan metanol sebagai bahan mentah, dan mikrobanya
berupa ragi yang dibiakkan dalam media yang kadar selnya tinggi sekali,
sehingga ini dapat mengurangi biaya energi untuk pengeringan.
Kecemasan akan
kekurangan pangan dan malnutrisi di dunia pada tahun 1970-an telah meningkatkan
perhatian pada sel tunggal. Sebagian besar dari bobot kering sel dari hampir
semua spesies memiliki kandungan protein yang tinggi. Oleh karena itu, bobot
kering sel tunggal memiliki nilai gizi yang tinggi.
Mikroorganisme yang
dibiakkan untuk protein sel tunggal dan digunakan sebagai sumber protein untuk
hewan atau pangan harus mendapat perhatian secara khusus. Mikroorganisme yang
cocok antara lain memiliki sifat tidak menyebabkan penyakit terhadap tanaman,
hewan, dan manusia. Selain itu, nilai gizinya baik, dapat digunakan sebagai
bahan pangan atau pakan, tidak mengandung bahan beracun serta biaya produk yang
dibutuhkan rendah. Mikroorganisme yang umum digunakan sebagai protein sel
tunggal, antara lain alga Chlorella, Spirulina, dan Scenedesmus;
dari khamir Candida utylis; dari kapang berfilamen Fusarium
gramineaum; maupun dari bakteri.
Protein sel tunggal
yang berasal dari kapang berfilamen disebut mikroprotein. Di Amerika Serikat,
mikroprotein telah diproduksi secara komersial bernama quorn. Quorn dibuat
dengan cara menanam kapang ditempat peragian yang berukuran besar. Setelah
membuang air dari tempat peragian, makanan berharga yang tertinggal dicetak
menjadi balok-balok yang mudah dibawa.
Produksi protein sel
tunggal sangat bergantung pada perkembangbiakan skala besar dari mikroorganisme
tertentu yang diikuti dengan proses pendewasaan dan pengolahan menjadi bahan
pangan. Ada dua faktor pendukug pengembangbiakan mikroorganisme untuk protein
sel tunggal, yaitu:
- laju pertumbuhan sangat cepat jika dibandingkan dengan sel tanaman atau sel hewan dan waktu yang diperlukan untuk penggandaan relatif singkat;
- berbagai macam substrat yang digunakan bergantung pada jenis mikroorganisme yang digunakan.
Kemajuan ilmu
pengetahuan dalam bidang fisiologi, nutrisi, dan genetika mikroba telah banyak
memperbaiki metode untuk menghasilkan protein sel tunggal dari berbagai macam
mikroba dan bahan mentah. Umpamanya, bakteri dengan kandungan protein yang
tinggi (72% lebih) dapat dihasilkan terus-menerus dengan menggunakan methanol
sebagai bahan mentah, dan mikrobanya berupa ragi yang dibiakan dalam media yang
kadar selnya tinggi sekali, sehingga ini dapat mengurangi biaya energi untuk
pengeringan.
2.
Substrat
dan Mikroorganisme dalam Produksi PST
Substrat yang
dapat digunakan dalam produksi PST bervariasi, diantaranya adalah
a. Molases dari pabrik gula atau hidrolisa pati
b.Cairan sulfit dari pabrik kertas
c. Hidrolisat asam dari kayu
d. Limbah pertanian (kulit buah, limbah tanaman
pertanian, limbah industri pangan)
e. Metana
f. Metanol dan etanol sebagai sumber karbon bagi
khamir
g.Parafin atau alkana
h.Minyak bumi
i. Gas pembakaran sebagai sumber CO2
bagi ganggang.
Pertimbangan
pemilihan substrat adalah kandungan nutrisi yang dibutuhkan mikroorganisme,
jumlah substrat secara kuantitatif dan kontinyu ketersediannya serta harga
substrat.
Mikroorganisme
yang biasa digunakan dalam memproduksi PST adalah bakteri, kapang, khamir
dan ganggang. Masing-masing mikroorganisme mermpunyai kelebihan dan kelemahan
jika digunakan dalam produksi PST.
Penggunaan bakteri
dalam produksi PST sangat terbatas karena mempunyai kelemahan sebagai berikut :
a. Penerimaan bakteri sebagai pangan oleh ternak
sangat rendah
b. Ukuran sel bakteri sangat kecil sehingga sukar
dipanen
c. Kandungan asam nukleat bakteri lebih tinggi
dibanding mikroorganisme yang lain
Keuntungan
penggunaan bakteri dalam produksi PST adalah: bakteri dapat tumbuh pada
berbagai substrat, waktu regenerasi cepat dan kandungan protein kasarnya
lebihtinggi dibanding mikroorg anisme yang lain.
Penggunaan gangang
untuk produksi PST sangat terbatas karena mempunyai kelemahan sebagai berikut :
a. Memerlukan suhu yang hangat dan banyak sinar
matahari serta membutuhkanco2
b.Dinding selnya tidak dapat dicerna.
Sedangkan
kelebihan produksi PST dari ganggang dibanding bakteri adalah: penerimaan
produksi PST oleh ternak lebih baik, kandungan asam nukleat lebih rendah dan
ukuran sel ganggang lebih besar sehingga lebih mudah dipanen.berbagai contoh
mikroorganisme dan substrat dalam produksi PST dapat dilihat pada tabel 1.
Kelemahan
penggunaan kapang dan khamir dibanding bakteri adalah : kandungan protein
kasar lebih rendah serta waktu regenarasi yang lebih lama dibanding bakteri.
Penggunaan kapang
dan khamir untuk produksi PST secara umum mempunyai keuntungan dibandingkan
dengan bakteri dan ganggang karena sifat-sifatnya sebagai berikut :
a.
Penerimaan
produksi PST dari kapang dan khamir oleh ternak lebih baik.
b.
Kandungan
asam nukleat lebih rendah
c.
Ukuran sel
kapang dan khamir lebih besar sehingga lebih mudah dipanen dan konsesntrasinya
lebih tinggi
d.
Dapat
tumbuh pada substrat dengan pH rendah
Tabel I. Berbagai jenis mikroorganisme dan substrat dalam produksi PST
|
Mikroorganisme
|
Substrat
|
|
Khamir
|
|
|
Kapang
|
|
|
Bakteri
|
|
|
Ganggang
|
|
Gambar 1. khamir/kapang Saccharomvces
cerevisiae
Gambar 2. Protein sel tunggal telah
dikembangkan sebagai bahan pangan di negara maju
Karasteristik yang
penting dalam seleksi mikroorganisme dalam produksi PST adalah: kecepatan dan
keemampuan tumbuh, mudah dalam pemeliharaan kultur, membutuhkan media yang
sederhana, serta kandungan protein kasar dan kualitas gizi yang lain dalam
mikroorganisme.
Faktor-faktor
yang mempengaruhi seleksi mikroorganisme dan substrat dalam produksi PST
banyak sekali. Faktor-faktor tersebut antara lain meliputi :
a. Faktor Nutrisi
Kandungan proten
kasar dan asam amino dari mikroorganiosme merupakan sumbangan nutrisi terbesar.
Kandungan lisin dari pst umumnya lebih tinggidari tanaman sehingga dapat
mensuplai kekurangan lisin. Kandungan proteinkasar PST bervariasi tergantung
mikroorganisme yang digunakan seperti terlihat pada tabel.
Tabel 2. Kandungan protein kasar
PST dari beberapa mikroorganisme
|
Tipe Mikroorganisme
|
%PK
|
|
Khamir
|
50-55
|
|
Bakteri
|
50-80
|
|
Ganggang
|
20-80
|
|
Kapang
|
15-45
|
Kandungan asam
nukleat juga bervariasi tergantung mikroorganisme yang digunakan dalam produksi
PST. Kandungan asam nukleat dalam ganggang: 4-6%, dalam
bakteri 10-16 %, dalam khamir 6-10 % dan dalam kapang 2,5-6 %. Kandungan asam
nukleat dalam mikroorganisme merupakan kendala pemanfaatan produk pst sebagai
pangan
b.Faktor Teknologi
Pakan Faktor
teknologi pangan PST dapat dilihat dari warna, aroma, tekstur, kelarutan dan
kesejahjaran dengan bahan pangan lain bahan tersebut merupakan dukungan bagi
PST dari segi nutrisi sebagai pengganti protein. Nutrisi dan kuantitas
teknologi PST dapat dimaksimumkan melalui proses pencucian, dehidrasi dan
pemanasan yang berguna untuk mematikan sel. Hal ini tergantung dari tipe
substrat yang digunakan dan tingkat bau (aroma) yang dapat ditoleransi pada
produka akhir serta daya racunnya.masalah lain dalam produksi PST adalah adanya
sel yang masih hidup dan berproduksi dalam usus. Masalah ini dapat diatasi
dengan pemberian panas untuk mematikan sel, seperti pada system “high
temperature short time” (HTST).
c. Faktor Sosial
Faktor sosial
kendala penggunaan PST adalah kandungan asam nukleat yang tinggi yang
menyebabkan terbentuknya asam urat dan menaikkan pembuangan urine. Masalah ini
tidak berarti bila jumlah konsumsi PST kecil dan barumenjadi masalah bila
konsumsui PST mencapai jumlah yang besar.upaya untuk menekan kandungan asam
nukleat dilakukan dengan jalan pemanasan mendadak (“heat shock”) untuk
memecah RNA danmenghancurkan penghambat pembentukan protein.
d.
Faktor
Ekonomi
Banyak alternatif
proses untuk memproduksi PST. Tabel 2 memperlihatkan“material balance” dalam memproduksi PST melalui fermentasi dari
substrat hidrokarbon dan karbohidrat.
Tabel 3. “material balance” produksi PST melalui
fermentasi dari subtract hidrokarbon dan karbohidrat.
|
Substrat
|
Input Substrat
|
O2
|
Ouput Sel
|
|
Hidrokarbon (CH2)
|
100
|
200
|
100
|
|
Karbohidrat (CHO)
|
200
|
67
|
100
|
Berdasar tabel di
atas, dapat dilihat bahwa untuk menghasilkan masa sel yang sama (100), Substrat
karbohidrat membutuhkan dua kali jumlah ssubsrathidrokarbon (200) meskipun
fermentasi hidrokarbon membutuhkan oksigen tiga kali dari jumlah yang
dibutuhkan dalam fermentasi karbohidrat. Dalam hal ini secara ekonomi
penggunaan hidrokarbon dianggap lebih hemat.
3.
Produksi
Protein Sel Tunggal dalam Mikroba Berfotosintesa dan Tanpa Berfotosintesa
Mikroba yang
berfotosintesa dan yang tidak berfotosintesa dapat sama-sama dipakai untuk
memproduksi protein sel tunggal. Sekurangnya mikroba ini memerlukan sumber
karbon dan energi, sumber nitrogen, dan suplai unsur nutrisi lain, seperti
fosfor, sulfur, besi, kalsium, magnesium, mangan, natrium, kalium dan unsur
jarang, untuk tumbuh dalam lingkungan air. Beberapa mikroba tidak dapat
mensintesa asam amino, vitamin, dan kandungan seluler lain dari sumber karbon
dan nitrogen sederhana. Dalam hal demikian, bahan-bahan tersebut harus juga
disuplai agar mereka bisa tumbuh.
a.
Produksi
Protein Sel Tunggal dalam Mikroba Berfotosintesa
Ganggang dan bakteri
tergolong mikroba berfotosintesa yang digunakan untuk memproduksi protein sel
tunggal. Pertumbuhan berfotosintesa ganggang yang diinginkan, seperti Chlorella,
Scenedesmus, dan Spirulina (pada Tabel), adalah menurut reaksi sebagai
berikut :
|
Karbon dioksida + air + ammonia atau nitrat +
mineral → sel ganggang + oksigen
Tabel
2. Proses pilihan untuk membuat protein sel tunggal pada ganggang.
|
Organisme
|
Bahan Mentah
|
Produksi
|
Produsen atau Pengembang
|
|
Chlorella sp.
|
CO₂ (dengan foto-2 sintesa); sirup tebu, tetes
(non-fotosintesa)
|
2 metrik ton/hari
|
Taiwan Chlorella
Manufacture Co. Ltd, Taipei
|
|
Scenedesmus acutus
|
CO₂, urea (dengan fotosintesa)
|
20mg/m2/hari
|
Central Food
Technological Research Institute, mysore, India
|
|
Spirulina maxima
|
CO₂, atau NaHCO3 (dengan fotosintesa)
|
320 metrik ton/tahun
|
Sosa Texcoco, SA,
Mexico City
|
Konsentrasi
karbondioksida di udara sekitar 0,03 %, ini tidak cukup untuk menunjang
pertumbuhan ganggang untuk menghasilkan protein sel tunggal. Tambahan karbon
dioksida bisa didapat dari karbonat atau bikarbonat yang terdapat dalam kolam
alkalis, gas yang keluar selama pembakaran atau dari pembusukan bahan organik
dalam air buangan kota dan limbah industri.
Sumber nitrogen untuk
produksi ganggang adalah seperti garam ammonium, nitrat, atau nitrogen organis
yang terbentuk oleh oksidasi air buangan kota dalam kolam. Fosfor dan bahan
mineral lain biasanya terdapat dalam air alam dan air limbah dan konsentrasinya
telah cukup untuk pertumbuhan ganggang.
Intensitas cahaya dan
suhu merupakan faktor penting untuk pertumbuhan ganggang. Untuk penanaman
mikroba secara besar dan ekonomis, suasana dalam tempat kultur harus cukup
jernih dan variasi intensitas cahaya harus sekecil mungkin sepanjang tahunnya.
Selain itu suhu haruslah diatur di atas 20ÂșC pada hampir sepanjang tahun.
Karena itu, kolam buatan di tempat terbuka di daerah semi tropik, tropik atau
kering merupakan sistem yang paling cocok untuk pertanaman ganggang. Bahan
untuk membangun kolam adalah seperti semen, plastik, atau serat kaca pelapis.
Kolam harus cukup besar
karena pertumbuhan ganggang terjadi terutama pada daerah setebal 20 cm atau 30
cm saja dan di tempat ini intensitas cahaya terbesar. Pengadukan perlu untuk
mencegah ganggang mengendap ke dasar. Dengan demikian semua sel ganggang dapat
terpapar merata ke cahaya dan bahan nutrisi.
Ganggang biasanya
ditanam dalam kultur campuran yang tidak terlalu steril. Suasana lingkungannya
haruslah menguntungkan bagi kehidupan spesies ganggang yang diinginkan, agar
mereka menjadi dominan dalam persaingan hidup dengan species lain.
Pemerintah India yang
bekerja sama dalam proyek Indo Jerman Algal Project, telah mendirikan suatu
program kerja sama paa Central Food Technological Institute di Mysore, India,
untuk membiakan species Scenedesmus dalam kolam buatan. Program ini
menghasilkan beberapa proyek di Mesir, India, Peru dan Thailand. Selain itu,
dalam pengamatan di Israel dan Argentina telah memperlihatkan bahwa ganggang
dari genus Dumaliella yang tahan terhadap garam dapat ditumbuhkan dalam air
asin untuk menghasilkan protein sel tunggal dan dengan produk tambahan berupa
gliserol dan beta-karoten.
Bakteri yang berfotosintesa
digunakan untuk menghasilkan protein sel tunggal ialah seperti bakteri dari
genus Rhodopseudomnas, dan ini dapat pula ditumbuhkan dalam air buangan
kota atau limbah industri. Di Jepang dan hasilnya digunakan sebagai pakan
ternak. Bakteri ini ditumbuhkan dalam kultur campuran dengan bakteri nitrogen
dan bakteri lain yang hidup aerobis. Kultur ini harus disuplai dengan bahan
organik sebagai sumber karbon dan energi. Mereka tidak akan dapat tumbuh
mengandalkan CO₂ dan
cahaya, seperti dapat dilakukan oleh ganggang. Kepadatan kultur bakteri adalah
sekitar 1 sampai 2 gram bahan kering tiap liter.
b.
Produksi
Protein Sel Tunggal Tanpa Berfotosintesa
Mikroba tidak
berfotosintesa yang dibiakkan untuk memproduksi protein sel tunggal ialah
seperti bakteri, kapang, ragi, dan jenis jamur lain. Mikroba ini hidup
aerobosis dan karena itu harus cukup suplai oksigen agar bisa tumbuh karena
termasuk karbon organis dan sumber energi. Selain itu juga merupakan sumber
nitrogen, fosfor, sulfur, dan unsur mineral, yang sebelumnya disebut-sebut
hanya diperlukan untuk pertumbuhan ganggang.
Pengubahan senyawa
organik menjadi protein sel tunggal oleh mikroba yang tidak berfotosintesa
dapat dibuat skemanya dengan persamaan reaksi berikut :
Karbon organik +
nitrogen + mineral bahan nutrisi + oksigen →
Protein sel tunggal +
karbon dioksida + air panas
1. Bakteri
Banyak spesies bakteri
yang baik untuk memproduksi protein sel tunggal. Salah satu ciri bakteri yang
cocok untuk ini ialah tumbuhnya cepat, waktu berbiakannya pendek, masa selnya
kebanyakan dapat jadi dua kali lipat dalam waktu 20 menit sampai 2 jam. Sebagai
bandingan, waktu berbiak ragi adalah 2 sampai 3 jam, dan kapang serta jamur
tinggi 4 sampai 16 jam.
Bakteri juga dapat
tumbuh pada berbagai bahan mentah, mulai dari karbohidrat seperti pati dan
gula, sampai hidrokarbon dalam bentuk gas atau cairan seperti metan dan fraksi
minyak bumi, sampai pada petrokimia seperti metanol dan etanol. Sumber nitrogen
yang baik bagi pertumbuhan bakteri ialah seperti amonia, garam aminium, urea
nitrat, dan nitrogen organik dalam limbah. Harus ada tambahan bahan mineral
ditambahkan ke dalam pembiakan, agar bahan nutrisi dapat menutupi kekurangan
yang dalam air alami mungkin kadarnya tidak cukup menunjang pertumbuhan.
Spesies bakteri yang
tampaknya lebih banyak memproduksi protein sel tunggal, paling baik tumbuh
dalam media yang sedikit asam netral, dengan pH 5 sampai 7. Bakteri itu juga
harus dapat toleran terhadap suhu dalam rentang 35 sampai 45° C, karena panas
dilepaskan selama bakteri itu tumbuh. Menggunakan strain yang toleran terhadap
suhu akan menghemat banyak sekali biaya untuk mendinginkan air. Pembiakan harus
dijaga agar selalu dingin, karena fermentasi disini perlu suhu rendah. Spesies
bakteri tak dapat digunakan untuk memproduksi protein sel tunggal, jika itu
bersifat patogen bagi tumbuhan, hewan, atau manusia.
Protein sel tunggal
dalam bakteri dapat dihasilkan dengan sistem adonan konvensional. Dalam sistem
ini semua bahan nutrisi dimasukan sekaligus kedalam fermentor. Sel-sel dipanen
jika mereka menggunakan bahan nutrisi dan berhenti tumbuh. Namun dalam metoda
produksi yang lebih maju, bahan nutrisi disuplai dengan sistem kontinyu
(terus-menerus), yang konsentrasinya sesuai dengan yang diperlukan untuk
menunjang pertumbuhan bakteri. Lalu sel-sel pun dipanen terus-menerus dengan
populasinya telah mencapai kerapatan yang diperlukan.
Adonan konsentrasi
karbon dan sumber energi biasanya berkisar antara 2 dan 10 persen. Dalam sistem
yang kontinyu suplai sumber karbon diatur sehingga konsentrasi dalam media
tumbuh tidak melebihi yang diperlukan bagi pertumbuhan selbakteri. Konsentrasi
ini biasanya akan lebih rendah daripada yang digunakan dalam sistem adonan.
Menjaga agar suasana
steril selama memproduksi protein sel tunggal, sangat penting, karena mikroba
pencemar akan tumbuh sangat cepat dalam media kultur. Udara masuk, media bahan
nutrisi dan alat fermentasi, harus disterilkan dalam seluruh proses protein sel
tunggal dalam bakteri. Suasana steril pun harus terus dijaga selama seluruh
kegiatan produksi.
Suatu sistem untuk
produksi protein tunggal dalam bakteri secara kontinyu, dengan metanol sebagai
sumber karbon dan energi, diperlihatkan pada gambar skema dibawah ini. Skema
itu adalah metoda yang paling umum digunakan.
![]() |
Gambar tahapan umum proses atau tahapan
produksi SCP
Setelah bahan nutrisi
disterilkan, kemudian dimasukkan ke dalam wadah fermentasi. Setelah itu
dilakukan okulasi bakteri, dan terjadilah pertumbuhan. Wadah yang disebut ‘bioreaktor’,
harus disuplai dengan udara steril. Air juga selalu sejuk, untuk mencegah
timbulnya panas dari proses fermentasi, yang jika bertimbun dapat membunuh sel.
Air sejuk diedarkan dalam suatu salut fermentor atau melalui suatu lilitan
pendingin yang berada dalam alat.
Pada proses kontinyu,
bahan nutrisi ditambahkan terus-menerus setiap terpakai, untuk menjaga
konsentrasi bakteri yang diperlukan. Larutan yang mengandung bakteri
dituangkan, diolah sehingga bakteri menumpuk atau bergumpal, lalu disentrifungsi.
Cairan itu kemudian diedarkan kembali ke dalam fermentor, sedangkan bakterinya
dikeringkan dengan cara penyemprotan, lalu digiling sehingga didapat produk
akhir.
Wadah juga dilengkapi
dengan alat untuk mengukur dan mengontrol pH, suhu, dan konsentrasi oksigen
yang terlarut. Udara yang dikeluarkan dari bioreaktor mengandung karbon
dioksida yang dapat dipisahkan, lalu dimasukan kedalam tabung kompresi untuk
dijual kepada industri yang menggunakan gas karbon dioksida.
Setelah bakteri di
angkat dari tangki fermentasi, mereka harus dipisahkan dari kaldu kultur, yang
biasanya dilakukan dengan menambahkan bahan kimia yang membuat sel-sel
menggumpal. Lalu disentrifungsi. Sel-sel yang terpisah dikeringkan untuk
menghasilkan produk yang akan stabil selama pengiriman ketempat yang jauh dan
disimpan untuk waktu lama. Akhirnya, harus ada alat untuk menggiling dan
membungkus sel-sel, dan suatu sistem untuk menangani dan mengedarkan kembali
cairan kultur yang terpakai.
Pemasukan oksigen bagi
sel-sel dalam fermentor merupakan faktor menentukan dalam kecepatan tumbuh dan
agar hasilnya memuaskan dari pertimbangan ekonomi. Berbagai rancangan fermentor
dapat mengatur pemasukan udara. Yang paling umum digunakan adalah reakto tangki
yang memiliki kincir pengaduk dan fermentor dengan sistem penampungan udara.
2. Ragi
Ragi dapat ditumbuhkan
pada beberapa macam substrat, meliputi karbohidrat, baik yang kompleks seperti
pati, maupun sederhana seperti gula glukosa, suklrosa, dan laktosa. Dapat pula
dipakai bahan mentah yang mengandung gula seperti sirup gula, tetes, dan air
diadih keju. Beberapa ragi dapat tumbuh pada karbohidrat rantai lurus, yang
dapat bersumber dari minyak bumu; dapat juga tumbuh pada etanol atau metanol.
Selain itu sumber
karbon, sumber nitrogen diperlukan pula. Nitrogen diperoleh dengan menambahkan
amonia atau garam amonium ke media kultur. Bahan mineral juga perlu sebagai
tambahan.
Kebutuhan untuk
memproduksi protein sel tunggal oleh ragi sama dengan yang diuraikan untuk
memproduksinya oleh bakteri. Ragi harus memiliki waktu tumbuh sekitar 2 sampai
3 jam. Ia juga harus toleran terhadap pH dan suhu. Secara genetis juga harus
stabil, sehingga hasilnya memuaskan. Tidak pula menyebabkan penyakit pada
tumbuhan, hewan, atau manusia.
Dengan kincir pengaduk
merupakan macam wadah yang paling banyak dipakai untuk menghasilkan protein sel
tunggal pada ragi, tapi fermentor pengapungan udara dapat juga digunakan.
Seperagi pada kultur bakteri, panas pun dilepaskan selama pertumbuhan ragi, dan
fermentor haruslah dilengkapi dengan sistem pendingin.
Fermentasi ragi dapat
beroperasi dalam sistem adonan atau sistem kontinyu atau dengan cara yang
disebut “adonan yang disuplai bahan nutrisi”. Pada adonan yang disuplai bahan
nutrisi, makanan substrat dan bahan nutrisi lain ditambahkan secara berangsur,
yang jumlahnya cukup untuk kebutuhan tumbuh ragi. Sementara itu harus dijaga
agar konstrasi bahan nutrisi setiap waktu selalu rendah. Metoda ini
menghasilkan 3,5 sampai 4,5 persen produk berat kering, dibandingkan dengan 1,0
sampai 1,5 produk berat kering yang dihasilkan dengan sistem adonan. Sel yang
dihasilkan dengan sistem adonan yang disuplai bahan nutrisi dipanen dengan cara
seperti halnya jika diproduksi dengan adonan biasa.
Meskipun kultur sistem
adonan dan sistem adonan yang diberi bahan nutrisi telah digunakan dalam
memproduksi ragi roti selama bertahun-tahun, namun baru belakangan dapat
dimonitor. Dengan demikian, pH dan konsentrasi susbtrat disesuaikan dengan
operasi sistem kontinyu. Konsentrasi sel ragi sampai 16 persen (berat kering)
diperoleh dengan kultur sistem kontinyu.
Ragi memiliki
keuntungan dibandingkan dengan bakteri untuk memproduksi protein sel tunggal.
Salah satu diantaranya, karena ragi toleran terhadap lingkungan yang lebih
asam, dengan pH berkisar antara 3,5 dan 4,5 bukan agak netral seperti yang
diperlukan bakteri. Akibatnya, proses ragi dapat berlangsung dalam media bersih
tanpa harus steril, pada pH 4,0 sampai 4,5. ini karena kebanyakan bakteri
pencemar tak dapat tumbuh dengan baik dalam media asam ini. Selain itu,
diameter sel ragi adalah sekitar 0,0005cm, dibandingkan dengan bakteri 0,0001
cm. Karena besarnya, ragi itu dapat dipisahkan dari media tumbuh dengan cara
sentrifugal, tanpa memerlukan tahap penggumpalan.
Produksi protein sel
tunggal pada ragi tergantung pada dipenuhinya kebutuhan oksigen kultur yang
sedang tumbuh dengan cara sentrifugal, tanpa memerlukan tahap penggumpalan.
Produksi protein sel
tunggal pada ragi tergantung pada dipenuhinya kebutuhan oksigen kultur yang
sedang tumbuh. Ragi yang tumbuh pada karbohidrat biasanya memerlukan sekitar 1
kilogram berat kering sel dan jika ditumbuhkan pada hidrokarbon diperlukan
sekitar dua kali lebih banyak. Udara, yang disterilkan melalui suatu filter,
dimasukkan ke dalam fermentor melalui layar atau pipa yang
berlobang-lobang pada dasar wadah, atau dengan pemasukan udara lewat roda
berputar, atau juga memalui pengapung udara, seperti digunakan untuk mengkultur
sel bakteri.
Protein sel tunggal
pada ragi dapat dihasilkan dalam suasana steril, maupun dalam suasana bersih
tapi tak steril. Pada adonan biasa, atau adonan yang disuplai bahan nutrisi
yang tidak perlu steril, sumber energinya dipakai karbohidrat. Media
disterilkan dengan cara mengalirkan melalui pertukaran panas, lalu dimasukkan
ke dalam fermentor yang bersih. Pengontrolan pencemaran dilakukan ke dalam fermentor
yang bersih. Pengontrolan pencemaran dilakukan dengan mengatur pH media pada
4,0 sampai 5,0, pemasukan udara yang steril, dan besar populasi mikroba
pencemar yang sedikit. Pada beberapa fermentasi ragi sistem kontinyu yang
menggunakan hodrokarbon atau etanol sebagai substrat, perlu suasana steril
sempurna, agar didapat hasil memuaskan dan bermutu.
Candida utilis, yang dikenal sebagai ragi torula dan
digunakan untuk tambahan pakan ternak dan konsumsi manusia, dibuat dari bahan
mentah yang beraneka macam. Diantaranya adalah etanol, cairan limbah sulfit
dari pabrik kertas, hidrokarbon berupa parafin normal, dan air dadih keju. Pure
Culture Products Division of Hercules, Inc., memiliki pabrik protein tunggal
dalam C. Ultis di Hutchinson, Minessota. Pabrik itu berkapasitas 6.800
ton setahun.
Pabrik itu dioperasikan
dengan sistem kontinyu dan dalam suasana steril. Sebagai sumber energi dan
karbon digunakan etanol. Sel ragi diangkat terus-menerus, dicuci, dan
dikeringkan dengan semprotan. Produk ini dipakai untuk makanan. Selanjutnya
dapat diproses untuk menghasilkan bumbu penyedap. Hasil biasa sekitar 0,7
metrik ton ragi kering untuk tiap metrik ton etanol yang terpakai. Kandungan
protein produk itu berkisar antara 50 dan 55 persen.
Pabrik berskala
komersial di Amerika Serikat dan Eropa juga menghasilkan
C. Ultis dari cairan limbah sulfit. Dalam proses yang biasa, cairan sulfit,
yang mengandung campuran gula, dibubuhi kapur. Lalu dididihkan secara terbuka
untuk membua sulfur dioksida, sulfit, dan senyawa sulfur lain yang dapat
menghambat pertumbuhan ragi. Perngoperasian harus dalam suasana bersih tapi tak
perlu steril, seperti diuraikan sebelumnya. Produk diambil dengan sentrifugal,
lalu dicuci dan dikeringkan.
Dari cairan sulfit
dapat diperoleh produk untuk makanan manusia atau pakan ternak, tergantung pada
sistem proses dan kontrol kualitas produk yang diberlakukan. Dengan menggunakan
cairan limbah sulfit, didapat hasil sekitar 1 metrik ton berat kering ragi
untuk tiap 2 ton guladalam cairan itu.
3.
Kapang dan jamur tinggi
Produksi protein sel tunggal pada kapang sekarang ini memakai
metoda yang sama dengan yang dipakai untuk membuat bahan sama pada ragi. Gula
sederhana atau bahan mentah yang mengandungnya cocok sebagai substrat bagi
berbagai macam kapang. Konsentrasi karbohidrat dalam media biakan biasanya
sekitar 10 persen. Sebagai sumber nitrogen dan tambahan mineral yang
dimasukkan kedalam media, biasa dipakai amonia atau garam amonium. Angka pertumbuhan
kapang dan jamur tinggi. Waktu tumbuh antara 4 sampai 16 jam, biasanya
lebih rendah daripada bakteri dan ragi. Kapang dan jamur tinggi tumbuh subur
pada suhu 25 sampai 360C dan pada pH 3,0 sampai 7,0. Namun
kebanyakan ditanam pada pH dibawah 5,0. Ini perlu untuk mengurangi sebanyak
mungkin pencemaran bakteri.
System adonan atau system gabungan adonan yang diberi bahan
nutrisi, atau system kontinyu, dapat diapakai untuk memproduksi protein sel
tunggal. Kebanyakan pada proses dengan system adonan, akan mendapat hasil
paling baik jika fermentornya diberi udara secara konvensional. Operasinya
dilakukan dalam suasana steril jika produk itu untuk makan manusia. Tapi, jika
untuk konsumsi hewan, dapat diproduksi dalam lingkungan bersih tanpa harus disterilkan.
Seperti fermentasi lain, pendinginan harus dilakukan pula, untuk mengimbangi
panas yang terbentuk selama pertumbuha kapang.
Kapang dan jamur tinggi, jika dikultur dalam fermentor yang
diberi udara, dapat tumbuh dalam bentuk benang atau pellet, tergantung pada
spesies yang ditanam dan suasana pemberian udara.
Ini dapat menyederhanakan cara pengambilan produknya, karena
mycelium yang berbnetuk beang atau pellet dapat dengan mudah dipisahkan dari
media dengan cara menapis atau dengan menggunakan saringan vakum yang berputar,
atau dengan saringan yang bertekanan biaya rendah. Namun tangki yang diaduk
secara mekanis tidak cocok bagi pertumbuhan mirkoba, karena benang kapang dapat
terkonsentrasi sekitar pengaduk dan tidak tersebar rata pada seluruh media
kultur. Penggunaan fermentor yang didalamnya pemberian udara juga bertindak
sebagai pengaduk dapat mencegah masalah ini.
4.
Nilai Ekonomi Produksi Protein Sel Tunggal
Faktor yang mempengaruhi kelayakan produksi protein sel
tunggal dari segi ekonomi meliputi:
1.
Biaya mendirikan fasilitas produksi.
2. Biaya
mnyediakan bahan mentah, energi tenaga kerja, pemeliharaan, penanggulangan
limbah, dan turunnya harga tahunan.
3.
Jauhnya letak pabrik dari pemasok bahan mentah serta untuk pemasaran
produk.
Pada pertengahan tahun 1970-an biaya untuk memproduksi
protein sel tunggal untk makanan dengan menggunakan bahan mentah metanol,
berkisar anatara $ 660 sampai $ 1.000 per metrik ton kapasitas tahunan bagi
pabrik yang memproduksi 50.000 sampai 100.000 metrik ton per tahun.
Perluasan pasar untuk produk protein sel tunggal sebagai
makanan ternak tergantung pada harga produk dan bagaimana efisiennya
meningkatkan pertumbuhan ayam broiler, banyak ayam dan kalkun bertelur, serta
pertumbuhan babi, dibandingkan dengan yang ditampilkan oleh protein alam untuk
makanan ternak sekarang ini, seperti kedelai dan ikan.
Kelezatan dan tekstur, sebagai tambahan terhadap nilai
nutrisinya merupakan penentu yang penting untuk dapatnya protein sel tunggal
dijjadikan makana manusia. Pada masa ini, pemasaran utama produk untuk manusia
ialah sebagai bumbu penyedap atau untuk meragikan bahan makanan. Seperti,
derivat protein ragi telah digunakan sebagai penyedap makana sejak lama.
Seperti ragi torula yang ditambahkan ketika mengolah daging membuatnya jadi
labih gurih. Dan ragi roti, tentu saja, dipakai untuk membuat roti dan produk
peragian lain. Selain itu, produk baru protein sel tunggal lain haruslah
memenuhi persyaratan yang disebutkan dalam peraturan yang dikeluarkan badan
pemerintah, sebelum dapat dipasarkan untuk makanan manusia atau hewan.
Produksi PST dapat
berupa isolat protein sel atau semua komponen sel karena hal-hal sebagai
berikut :
a. Produksi protein lebih cepat dan efisien
dibandingkan produksi protein nabati atau hewani.
b.Nilai gizi PST lebih tinggi dibandingkan protein nabati karena
komposisiasam amino lebih lengkap.
c. Produksi PST tidak memerlukan tempat yang luas
dibandingkan produksi protein nabati atau hewani.
d.
Produksi
PST tidak dipengaruhi kondisi luar karena kondisi fermentasi dapatdiatur.
e. Proses produksi PST fleksibel karena dapat
digunakan berrbagai substrat dan mikroorganisme.
Produksi dan
penggunaan PST juga mempunyai kelamahan-kelemahan sebagai berikut :
a. Kandungan asam nukleat tinggi. Kandungan asam
nukleat dalam tubuh manusia akan diubah menjadi asam urat sebagai produk akhir.
Kandungan asam urat yang terlalu tinggi dalam tubuh manusia dapat merangsang
gejala penyakit tulang (encok).
b.Dinding sel mikroorganisme kadang kadang mengandung komponen yang tidak
dapat dicerna dan bersifat racun atau menyebabkan alergi. Beberapa
mikroorganisme juga memproduksi toksin yang berbahaya, misalnya aflatoksin oleh
beberapa kapang.
c. Mikroorganisme mungkin mengadsorbasi komponen
beracun atau karsinogenik yang terdapat didalam substrat, misalnya hidrokarbon
rantai ganjil dan bercabang, komponen aromatic dan sebagainya.
d.
Fluktuasi
harga dan persediaan sustrat yang tidak tetap, Biaya penyediaan substrat
meliputi 40-50 % dari total biaya produksi PST.

Artikel ini cukup membantu saya dalam mengerjakan paper..
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusmaaf sebelumnya, saya ingin mengetahui lebih lanjut, tentang bisnis ini, apa ada nomor hp atau nomor rumah yang bisa di hubungi??? atau bisa menghubungi saya ke 0813 8459 0646 ,, dengan Herny Handayani. SH, jakarta, hohon untuk menghubung saya.... terimakasih!
BalasHapustulisannya sangat membantu saya, akan tetapi kekurangannya Daftar Pustakanya tidak dilengkapi. makasih.
BalasHapus